Jumat, 07 Desember 2012

KTF UI: Menari Melihat Dunia...


        Siapa yang tidak kenal Komunitas Tari Fisip (KTF)? Dalam rangka mempertahankan kebudayaan dalam bidang seni tari dan musik, komunitas yang terdiri dari puluhan anggota ini memberikan wadah bagi mahasiswa-mahasiswi FISIP untuk mengembangkan minat dan hobinya dalam bidang seni tari, baik seni tari tradisional maupun tari modern. Selain itu, KTF UI Radha Sarisha juga memberi kesempatan bagi seluruh mahasiswa-mahasiswi FISIP UI untuk mempelajari musik tradisional dan musik modern. Komunitas yang berdiri sejak empat tahun lalu ini, tepatnya tahun 2008, didirikan oleh mahasiswa-mahasiswi FISIP UI yang memiliki hasrat untuk menyalurkan ketertarikannya dalam bidang tari dan musik.

Dengan diketuai oleh Shinta Dewi, mahasiswa FISIP UI angkatan 2009, Komunitas Tari Fisip (KTF) memiliki jadwal latihan rutin setiap hari Jumat pukul 11.00, dengan didampingi oleh pelatih handal yaitu Jamilah Siregar atau biasa yang dipanggil dengan Kak Mila.
Tarian yang dipelajari di Komunitas Tari FISIP UI (KTF UI) adalah tari Saman (Aceh), tari Zapin Kipas (Pulau Bangka), tari Palti Raja (Batak), tari Nandak ganjen (Betawi), tari Piring Sofyani (Sumatera Barat), tari Lenggang Nyai (Betawi), tari Bajidor Kahot (Jawa Barat), tari Jejer (Banyuwangi), tari Zapin (Riau), tari Kapur Sirih (Jambi), tari Kancet Gantar (Dayak Benuaq), tari Gaba Gaba (Ambon, Maluku), tari Mpok Ngigel (Betawi), tari Zapin Dara, tari Piring (Minangkabau), tari Marsitami-Tami (Toba, Sumatera Utara), tari Gewaya (Nusa Tenggara Timur), tari Pendet (Bali), tari Zapin Kasmaran (Melayu), tari Rondang Bulan (Tapanuli Selatan), tari Ci’ Minah Sayang (Melayu). Tarian tersebut adalah tarian tradisional yang berasal dari Sabang hingga Merauke. Selain tari tradisional, KTF UI juga mempelajari tarian modern dan musik tradisional.
Selain menyabet prestasi di dalam negeri, Komunitas Tari Fisip (KTF) yang ternyata juga mendapat sambutan yang hangat di negeri orang. Di kancah internasional, KTF UI sudah menapakkan prestasinya semenjak tampil di UI Fest sejak tahun 2010. Tahun 2012 ini Komunitas Tari Fisip (KTF) mendapat kesempatan kembali untuk mewakili Indonesia dalam misi budaya Du Sud Festivals Summer 2012 France-Spain-Belgium pada tanggal 9 Agustus 2012 hingga 15 September 2012 setelah tahun 2011 lalu KTF UI Radha Sarisha sukses di Du Sud Festivals Summer 2011 France-Spain yang mana acara ini didukung oleh International Organization of Folk Art (IOV) Indonesia, sebuah organisasi non-pemerintah dalam hubungan operasionalnya dengan Organisasi PBB Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO).
Dengan adanya program misi budaya ini, KTF UI Radha Sarisha kembali mengadakan acara pagelaran tari dalam rangka pelepasan kontigen yang dilaksanakan tanggal 19 Juli 2012 lalu pukul 19.00 WIB bertempat di GBB Taman Ismail Marzuki (TIM). Harga tiket yang dijual berkisaran mulai dari lima puluh ribu rupiah hingga seratus ribu rupiah. Sebanding dengan harga tiketnya, konser pagelaran tari dalam rangka melepas kontingen ini menyuguhkan berbagai tarian tradisional yang disusun dengan apik dan manis. Dengan mengusung tema “Mataya Mirsa Buana” yang berarti menari melihat dunia, pagelaran tari ini masih dipimpin oleh koreografer dan musik director yang sama seperti tahun lalu, yaitu Jamilah Siregar selaku pelatih tari tradisional KTF UI dan Imam Firmansyah.
Konser pagelaran tari ini dikemas secara menarik dengan sebuah cerita yang berkisah tentang perantauan seorang pemuda yang pergi ke negeri seberang, dalam mencari cinta, dan akhirnya menemukan cinta sejatinya, yaitu cinta kedua orang tuanya. Akhirnya pemuda itu berniat ingin membahagiakan kedua orangtuanya untuk menggapai cita-citanya hingga ke benua biru.
Lawatan kesenian KTF UI di bawah pimpinan Anissa Pramudita dan koreografer Jamilah Siregar, ini menampilkan 12 tarian dan musik tradisional yaitu Gaba-gaba (Maluku), Kancet Gantar (Kalimantan), Saman (NAD), Kembang Malate (Madura, Jawa Timur). Selain itu juga Zapin Kasmaran (Melayu Deli, Sumatra Utara), Rondang Bulan, Marsitami-tami (Sumatra Utara), Mpok Ngigel (Betawi), Tifa (NTT), Lenggang Nyai (Betawi), Renggong Manis (Betawi), dan Selayang Pandang.
Menampilkan belasan tarian dan musik tradisional untuk dibawa ke negeri orang tentu bukanlah perkara mudah. Para anggota tetap harus berkomitmen dengan kuliah, pengurusan visa Schengen, dan tentu saja jadwal latihan rutin yang harus terus menerus dilaksanakan untuk  menampilkan tarian terbaik  demi membawa nama Ibu Pertiwi kita, Indonesia.
Dengan membawa 33 orang penari dan pemusik dari Komunitas Tari FISIP Universitas Indonesia (KTF UI) Radha Sarisha berhasil memukau pengunjung di kota-kota yang mereka datangi yaitu Castres, La Fage Saint Julien, Vic, Namur, Haguenau, dan Vila Real.
"Gerak ritmik dan dinamis Tari Saman dan Kancet Gantar mendapat aplaus meriah dari para undangan dan pengunjung festival, yang mungkin baru pertama kali melihat pertunjukan kedua tarian tersebut selama hidupnya," demikian keterangan pers Sekretaris III Penerangan, Sosial Budaya dan Diplomasi Publik KBRI Brussel Diyah R. Agustini.
Salah satu festival yang Komunitas Tari FISIP UI (KTF UI) datangi yaitu Festival de Folklore de Jambes di Namur, adalah acara budaya yang diselenggarakan setiap musim panas dengan mengundang peserta dari berbagai belahan dunia.
Pada tahun ini para peserta festival berasal dari negara-negara Armenia, Indonesia, Irlandia, Italia, Meksiko, Polandia dan tuan rumah Belgia. Penampilan tarian tradisional Indonesia dalam festival ini mendapat apresiasi positif dari Presiden Festival, Teresa Rodriguez Rocha.
Partisipasi KTF UI Radha Sarisha dalam Festival de Folklore de Jambes (17-20 Agustus 2012), yang tahun ini merupakan edisi ke-53, adalah bagian dari lawatan kesenian mereka ke berbagai negara di Eropa. Selain di Belgia, mereka juga tampil di Spanyol dan Prancis.
Dalam sebuah tarian yang dipertunjukkan terdapat nilai moral dan sosial yang terdapat didalamnya, terdapat sejarah dan asal usul mengapa sebuah tarian diciptakan, terdapat maksud dan tujuan mengapa sebuah tarian dipertotonkan, tarian dapat sarat akan nilai agama ataupun tidak. Terdapat cerita yang dicerminkan dari gerakan-gerakan tubuh yang indah dan berkesinambungan. Tarian tradisional Indonesia sangat banyak jumlahnya dan berangan maka cerita dan pesan moral yang ingin disampaikan pun banyak dan beragam. Nilai pluralisme telah tertanam dalam masing-masing masyarakat di Indonesia, itulah yang membuat mengapa anak-anak muda dari KTF UI dapat mempelajari berbagai macam tari tradisional Indonesia tanpa memandang asal daerah tarian tersebut dan menyampingkan rasa etnosentris dan menghilangkan segregasi.


Kegiatan misi budaya ini adalah yang kedua kalinya diikuti oleh KTF UI. Annisa berharap, untuk selanjutnya KTF UI terus konsisten untuk melestarikan kebudayaan Indonesia dan aktif mengikuti lomba dan festival-festival, baik di dalam negeri  maupun luar negeri. Menjadi bagian dari Festival Du Suud 2012 adalah salah satu pencapaian terbesar yang pernah didapatkan oleh KTF UI. “Karena perjuangan dalam melaksanakan misi budaya tersebut untuk mengharumkan nama Indonesia bukanlah suatu hal yang mudah. Dan kecintaan kami terhadap Indonesia, hal itu yang sulit didapat dimasa muda,” kata Annisa.
Semoga saja Komunitas Tari FISIP Universitas Indonesia (KTF UI) dapat terus melanjutkan misi budaya ini demi mengharumkan nama Indonesia dan memperkenalkan kebudayaan Indonesia. Semangat terus, KTF!

Tidak ada komentar: